Senin, 29 Oktober 2012

Wakatobi 2 : Pusat Penelitian Terumbu Karang


imageBila berkunjung ke Wakatobi, maka pulau Hoga adalah salah satu objek wisata yang harus menjadi titik perhatian untuk dikunjungi. Pulau kecil yang terletak di bagian utara Pulau Kaledupa tersebut merupakan pusat aktivitas  dari Operation Wallace yang telah memulai aktivitas penelitian sejak tahun 1995 sampai saat ini. Sampai saat ini pun di Pulau Hoga, salah satu pulau kecil di Wakatobi, lembaga Ekspedisi Wallacea masih menempatkan sebuah lembaga riset yang selalu didatangi peneliti dari berbagai negara.
Adanya aktivitas Operation Wallace tahun 1995 tersebut kemudian melambungkan kepulauan Wakatobi sebagai jantung dari segitiga terumbu karang dunia yang meliputi Indonesia, Philipina sampai kepulauan Salomon. Wakatobi dengan keindahan dan potensi yang dimiliki menjadikan sebagai   salah satu surga penyelaman di Indonesia, yang menyebutkan bahwa kawasan di Sulawesi Tenggara ini sangat kaya akan spesies koral. Di sana, terdapat ± 750 dari total ± 850 spesies koral yang ada di dunia. Keragaman jenis biota lautnya jauh dibandingkan tempat penyelaman lain, termasuk kawasan Karibia dan Laut Merah.
Berdasarkan data, maka perairan Wakatobi  memiliki 25 buah gugusan terumbu karang dengan keliling pantai dari pulau-pulau karang sepanjang 600 km. Lebih dari 112 jenis karang dari 13 famili diantaranya Acropora formosa, A. hyacinthus, Psammocora profundasafla, Pavona cactus, Leptoseris yabei, Fungia molucensis, Lobophyllia robusta, Merulina ampliata, Platygyra versifora, Euphyllia glabrescens, Tubastraea frondes, Stylophora pistillata, Sarcophyton throchelliophorum, dan Sinularia spp.
Kekayaan jenis ikan yang dimiliki taman nasional ini sebanyak 93 jenis ikan konsumsi perdagangan dan ikan hias diantaranya argus bintik (Cephalopholus argus), takhasang (Naso unicornis), pogo-pogo (Balistoides viridescens), napoleon (Cheilinus undulatus), ikan merah (Lutjanus biguttatus), baronang (Siganus guttatus), Amphiprion melanopus, Chaetodon specullum, Chelmon rostratus, Heniochus acuminatus, Lutjanus monostigma, Caesio caerularea, dan lain-lain.
DSC02198DSC04500
Dermaga sandar kapal di pulau Hoga                                                                 Gazebo di Pulau Hoga
DSC04531DSC04536
 Homestay berbentuk rumah panggung  di pulau  Hoga
DSC04526DSC04528
Beberapa bangunan milik Operation Wallace
Bagi pengunjung yang ingin menginap di pulau tersebut  tersedia sekitar 100 homestay yang dikelola oleh masyarakat yang tinggal  di Kaledupa.  Aktivitas yang dapat dilakukan di pulau tersebut selain penelitian, menyelam, snorkling, dan berjemur.
Lokasi homestay berada disekitar bangunan besar milik Operation Wallace, di mana masing-masing homestay dibangun dalam bentuk rumah panggung yang saling terhubung dengan jalan setapak selebar 2 meter terbuat dari batu dan semen. Tiap bangunan  terbuat dari kayu. Untuk dapat enginap di lokasi tersebut kita dapat menghubungi pak Jufri yang tinggal di Kaledupa, yang bersangkutan tampaknya menjadi koordinatorpemilik homestay.   Tarif menginap di homestay dipatok Rp. 50.000,-/orang/malam.
Untuk menuju pulau Hoga dapat ditempuh melalui Wanci (Wangiwangi) menggunakan speedboat atau kapal kecil sekitar 2 jam, atau datang terlebih dahulu ke Pulau Kaledupa dari Baubau atau Wanci. Bila perjalanan dari Baubau dapat ditempuh menggunakan kapal cepat Cantika Express dengan lama perjalanan sekitar 3 jam (tarif penumpang Rp. 150.000/orang) atau menggnakan speed boat atau kapal kayu dari Wanci dengan tarif Rp. 50.000,-. Dari Pelabuhan Kaledupa perjalanan dapat dilanjtkan dengan perahu motor kecil atau speed boat dengan jarak tempuh sekitar 15 – 30 menit, tarif Rp.10.000 – Rp. 50.000,-
DSC04623DSC04555DSC04502
Beberapa kapal dan speedboat yang dapat digunakan untuk sarana transportasi ke lokasi pulau-pulau sekitar Wakatobi
Tip Wisata Hemat ketika berkunjung ke Pulau Hoga memilih sewa kapal kecil lansung dari Wanci ke Hoga dengan tarif sewa Rp. 500.000,- (sewa dari pagi sampai sore hari ).  Berangkat pagi-pagi jam 05.00 pagi  sekalian untuk mengintip pertunjukan lumba-lumba yang infonya akan bermunculan sekitar jam 06.00 pagi, namun pagi tersebut kami tidak beruntung dapat melihat munculnya lumba-lumba dimaksud. Perjalanan Wanci – Hoga ditempuh sekitar 2 jam.
Dari info yang kami terima, baik menyangkut ketersediaan air tawar dan makanan serta minuman, kami sejak awal telah menyiapkan perbekalan dengan membeli di Wanci. Untuk keperluan makan, kami telah membeli ikan segar dan Kasuami (makanan terbuat dari ubi kayu yang diparut – diperas airnya dan ampasnya dimasak, bentuknya seperti tumpeng). Ikan segar di lokasi dapat dibakar dengan membuat api kecil dengan menggunakan ranting-ranting kering yang banyak berserakan.
DSC04522DSC04524
Aktivitas bkar ikan segar dan Kasuami berbentuk tumpeng (gunungan) sebagai  makanan pokok masyarakat Wakatobi
Aktivias selama di pulau Hoga, dengan didampingi pak Hamid (pemilik kapal) melakukan penyelaman di sekitar dermaga pulau Hoga. Penyelaman dilakukan sesaat setelah tiba dan sore sekitar jam 3, saat air laut surut.  Di saat istirahat menyelam, kegiatan dilanjutkan dengan melihat dan mengelilingi pulau Hoga.
DSC04581DSC04583

1 komentar: